Kisahku di Pondok Pesantren

Nama : Afifa Damayanti
NIM.   : 175231128
Kelas.  : PBS 2D

“KISAH KEHIDUPANKU DI PONDOK
PESANTREN AL-MUTTAQIN”
Pesantren? Pertama mendengarnya Saya bingung apa yang akan saya lakukan karena saya belum pernah mondok di pesantren. Saya ingin tahu Pesantren itu tempat untuk mendalami ilmu agama Islam dan disana tempat para santri yang ingin menghafalkan Alquran Hadis dan sebagainya. Sebenarnya saya takut untuk masuk dalam pesantren, apa yang akan dilakukan di sana pun saya juga masih tidak mengerti. Apakah saya akan mengikuti kegiatan seluruh di pesantren tersebut selama 24 jam atau saya hanya lihat saja atau pun bertanya pada santri-santri di sana. Untuk masuk dalam Pesantren itu saya tidak memiliki kepercayaan diri tapi teman-teman saya berusaha untuk meyakinkan saya bahwa di pesantren itu enak orangnya baik baik sopan sopan. Dengan sedikit kepercayaan diri saya mencari pondok pesantren di daerah Klaten di mana Di sana banyak pesantren.
Dimulai saat mencari pesantren di daerah Klaten yang sebenarnya tidak saya tahu daerah-daerahnya bahkan saya baru pertama kalinya pergi ke Klaten. Saya bersama teman saya bingung mau cari pesantren dimana karena sama-sama tidak hafal daerah Klaten yang akhirnya saya bertanya keteman saya lainnya yang rumahnya di Klaten. Teman saya mengusulkan pondok pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti yang beralamatkan Sumberrejo, Troso, Karanganom, Klaten. Saya mau jika melakukan penelitian di pondok pesantren tersebut bersama dengan teman-teman saya. Saya mengurus surat perizinan untuk melakukan observasi 24 jam di pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti. Setelah mengurus surat perizinan saya bersama teman saya pergi menuju Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila untuk meminta izin kepada pengurus pondok tersebut pada tanggal 2 Maret 2018.
Saat saya sampai di pondok pesantren al-muttaqin Pancasila Sakti ditemani oleh teman saya. Di sana saya disambut oleh salah satu santri pengurus Pesantren lalu masuk ke Komplek pesantren putri. Sayangnya Waktu itu saya tidak bertemu dengan Umi yang di mana beliau sebagai pengurus atau orang tua asuh. Beliau sedang pergi ke Kudus dalam rangka suatu acara bersama Abah. Saya disambut oleh Mbak-mbak  Pondok dan saya langsung mengatakan tujuan kedatangan saya kesana itu untuk meminta izin untuk melakukan observasi 24 jam. Menurut Mbak Mbak Pondok untuk masalah perizinan harus menunggu karena Mbak akan menuruti perintah Umi jika mengizinkan saya untuk ke situ. Setelah berbincang-bincang saya diajak untuk melihat asrama putri pondok pesantren al-muttaqin seperti apa.
Di dalam pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti Kompleks Putri Ternyata santrinya banyak kamarnya pun juga banyak. Sasa pertama kali melihat isi dalam pondok tersebut terkejut semuanya diatur dengan rapi jemuran pun juga diatur dengan rapi tempat-tempatnya terus sama wadah untuk meletakkan peralatan mandi pun juga sudah diatur sedemikian rupa. Santri-santrinya sopan sopan dan sangat menghormati saya dan rombongan saya. Di sana terdapat 3 lantai, lantai pertama digunakan untuk dapur kamar mandi ruang tamu dan ruang khusus pengurus, lantai kedua berisi kamar kamar dan kamar mandi, lantai ketiga berisi ruang yang luas tanpa sekat yang digunakan untuk para santri yang usia 12 tahun hingga 14 tahun. Saya diajak untuk perkenalan dengan para santri di sana yang dari berumur 11 tahun hingga berusia 26 tahun. Waktu saya datang ke sana bertepatan pada waktu istirahat siang jadi para santri sedang istirahat dan ada yang Sedang membereskan kamarnya.
Setelah mengelilingi dan melihat-lihat isi dari Pondok Pesantren al-muttaqin Komplek Putri saya dan bersama teman saya kembali ke ruang tamu yang untuk ngobrol-ngobrol dengan Mbak Mbak Santri. Bercerita bercerita banyak tentang pesantren ini Mbaknya asik-asik diajak untuk ngobrol enak jadi saya merasa nyaman di sana. Waktu telah berlalu begitu saja sehingga saya dan teman saya memutuskan untuk pamit pulang. Kami mau minta tolong sama mbak nya Jangan lupa untuk menyampaikan permohonan perizinan dari saya ke Umi dan Abah. Mbaknya akan menghubungi saya jika Umi dan Abi mengizinkan dan jikalau Umi dan Abi minta surat perizinan dari kampus akan sampaikan kepada saya.
Seminggu Setelah saya melakukan kunjungan untuk meminta perizinan di pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sati Kompleks putri saya pun datang lagi ke sana untuk menemui Umi. Umi menyambut baik kedatangan saya walaupun saya masih sedikit grogi untuk berbicara kepada Umi karena Umi sangatlah dihormati di pesantren ini. Umi sudah tahu Apa tujuan kami untuk datang ke tempat Umi Dede Umi langsung menjelaskan perihal perizinan observasi yang akan dilakukan oleh saya di pesantren tersebut. Umi mengizinkan saya untuk melakukan observasi tips pondok pesantren ini lalu membebaskan Saya mau kapan mulai menginap dan melakukan observasi di pondok pesantren ini. Umi juga membebaskan saya saat nanti jika saya mondok saya boleh mengikuti semua kegiatan yang ada di pondok pesantren tanpa terkecuali pun dan boleh juga saya tidak mengikuti kegiatan pondok pesantren ini. Setelah perizinan yang saya dapat saya menyerahkan surat permohonan perizinan observasi dari kampus pada Umi lalu saya pamit untuk kembali ke kampus.
Sayang memutuskan untuk memulai mondok pada tanggal 11 - 12 Maret 2018 di pondok pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti Kompleks Putri di Klaten. Saya datang dengan rombongan saya pukul 16.30 WIB, dengan membawa barang secukupnya yang dibutuhkan saat di pondok. Sampainya di pondok saya masih bingung harus bertemu dengan siapa Akhirnya saya menyuruh salah satu santri yang ada di sana untuk memanggil Mbak Mbak Pondok yang kemarin menjamu saya. Saya diajak ke kamar yang telah disiapkan oleh Mbak Mbak Santri untuk saya dan rombongan saya menginap di sana. Setelah menaruh barang-barang bawaan saya disuruh untuk menemui Umi untuk menyampaikan kedatangan saya. Lalu saya kembali lagi ke kamar walaupun dengan rasa sungkan dan canggung. Di kamar saya di beri arahan mbak-mbak pengurus itu saya dibebaskan untuk mengikuti seluruh kegiatan yang ada di pondok mulai dari salat berjamaah hingga ngaji dan belajar Kitab.
Saya mulai mengikuti kegiatan yang ada di pondok pertama saya mengikuti kegiatan membaca Asmaul Husnah lalu dilanjutkan sholat berjamaah di mushola Pondok Putri ini. Di sana setelah sholat berjamaah maghrib para santri ngaji ke umi ada yang menyetorkan hafalan nya dan juga ada yang sedang bersihkan tubuh.  Untuk santri yang  masih bersekolah  Kelas  satu  MTS  sampai kelas tiga MTS diwajibkan menghafal Al-Quran jus 30. Setelah semuanya sudah mengngaji pada Umi gantian saya yang dipanggil oleh Umi dan mengatakan bahwa nanti setelah Subuh saya akan di al-fatihahkan. Saya dan teman saya diajak untuk makan malam di pondok bersama dengan para santri-santri. Makan dengan lauk apa adanya tetapi saya dan rombongan mendapat lauk istimewa yaitu telur dadar.
Di pondok pesantren saya diajari diajari wudhu dengan benar dan sesuai dengan syariat Islam. Wudhu pun harus mengantri karna banyak santri-santri putri yang ingin wudhu dan ada yang sedang mencuci baju. Berbeda dengan saya dan kelompok saya karena para santri menganggap saya sebagai tamu dari Ummi jadi saya didulukan untuk wudhu. Santri yang masih SMP baik-baik mereka menghormati kaami di pondok dan selalu mengalah bila kami ingin ke kamar mandi atau pun hanya ingin wudhu. Mbak-mbak pengurus juga sangat baik pada saya, mereka selalu bertanya apa yang saya butuhkan dan selalu meminta maaf karena mereka hanya menyiapkan sesuatu yang apa adanya. Kami disiapkan kamar yang cukup luas untuk tidur berlima padahal itu kamar santri sehingga santri harus mengungsi di kamar lain disaat kamarnya saya gunakan untuk tidur.
Waktu telah menjelang malam dan kegiatan di pondok masih berlangsung seperti saat itu saya bersama teman saya mengikuti kegian belajar tentang kitab kuning Mukhhtar Al-Hadits Al-Nabawiyyah karya Sayid Ahmad Al-Hasyimi. Santri diwajibkan untuk mepelajari kitab ini yang diartikan menggunakan bahasa Jawa lalu baru diartikan ke bahasa Indonesia dan akan dijelaskan oleh Ustadz. Penulisan dalam bahasa Jawa harus menggunakan tulisan bahasa Arab. Pelajaran yang memakan waktu yang cukup lama lalu selesai dengan dilanjutkan untuk belajar pelajaran sekolah bagi yang sekolah. Yang sudah tidak sekolah akan mengaji dan menghafal Al-Quran karena di pondok putri ini diwajibkan menghafal Al-Quran. Saya dan kelompok saya memutuskan untuk masuk kekamar untuk tidur dan ada yaang mengerjakan tugas kuliah.
Waktu berjalan dengan cepat pukul 3 pagi saya dan kelompok saya dibangunkan untuk sholat malam dan sholat subuh berjamaah. Di Mushola saya melihat banyak santri yang ketiduran karena kelelahan mengaji dan menghafalkan Al-Quran bahkan sampai ada yang duduk megang Al-Quran sambil ketiduran. Setelah sholat berjamaah dilanjutkan dengan mengaji sama Ummi lalu persiapa  untuk sekolah. Saya bersama teman -teman datang menemui Ummi untuk di Al-Fatihankan dan kami menbaca bersama dengan Ummi. Kegiatan saat pagi hari hingga siang hari tidak sepadat saat sore hingga subuh. Saat santri pergi ke sekolah giliran para mbak-mbak mengerjakan tugasnya yaitu menyiapman sayuran dan bumbu-bumbu untuk dimasak oleh Akang-akang di pondok. Dipondon ini memang yang memasak adalah santri putra sehingga santri putri hanya bertugas menyiapkan keperluan masah saja. Saya dan teman saya membantu mbaknya walaupun hanya membantu memotong sayuran.
Saat pagi setelah bertemu my saya diajak oleh para Mbak Mbak santri untuk mencari sarapan pagi di luar karena memang di pondok saat pagi hari tidak menyiapkan makanan sebab belum matang. Di sana terdapat warung penjual nasi dan lauk jadi para santri tidak bingung juga mencari sarapan. Tetapi kebanyakan saat pagi hari para santri titik sarapan karena terlalu sibuk untuk menyetorkan hafalannya dan untuk persiapan ke sekolah Jadi jika sarapan Mereka takut akan ketinggalan pelajaran di sekolah. Yayasan ini memang seperti sebuah desa yang banyak jalan-jalan kecil sehingga jika tidak tahu daerahnya pekan ke tersesat. Konflik antar Pesantren satu dengan yang lainnya jaraknya tidak terlalu jauh memudahkan para santri jika ingin berkunjung ataupun ingin menemui pengurus pengurus Komplek tersebut. Warga di daerah Yayasan Al Muttaqin sangat rama-rama pada ke saya dan teman-teman saya. Mereka selalu menyapa kami jika kami ada di luar untuk mencari makan ataupun hanya untuk duduk-duduk di luar.
Karena tidak ada kegiatan saya dan teman-teman saya memutuskan untuk menemui pengurus pondok Putri ini. Saya menemui Mbaknya lalu menanyai tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti Kompas Putri ini. Mbaknya Jelaskan bahwa pondok pesantren ini didirikan oleh Mbah Kyai Haji Muslim Rifai Imampuro pada tahun 1974. Waktu 1175 itu bentuknya masih kecil-kecilan nggak sebesar sekarang lalu madrasah aliyahnya 1994 dengan dilanjutkan pembangunan pondok pesantren. Sistem pembelajaran ada Salaf dan modern jadi dalam satu Yayasan itu ada Aliyah ada MTS dan Madrasah Diniyah. Aliyah dan MTS menggunakan sistem pembelajaran modern seperti zaman sekarang ini tapi jika Madrasah Diniyah Pondok itu menggunakan Salaf seperti zaman dulu. Di Aliyah dan MTs menggunakan buku-buku seperti zaman sekarang yang umum tetapi jika Madrasah Diniyah menggunakan kitab-kitab zaman dulu.
Al-Quran yang digunakan para santri harus karya dari Usmani Terbittan yang diterbitkan oleh Mubarokatan Toyibah. Santri diharuskan menghafal Alquran bagi yang masih sekolah diwajibkan untuk menghafal Alquran juz 30 terlebih dahulu anak menurut Umi agar tidak mengganggu pembelajaran akademiknya. Bagi yang sudah mampu diwajibkan untuk menghafalkan seluruh juz dalam al-qur’an dan bagi yang sudah hafal untuk menyetorkan kepada Umi khususnya yang sudah 3 juz ataupun lebih. Bagi yang belum 3 juz itu akan disetorkan kepada mbak mbak Pondok dan di Diniyah. Selain itu para santri juga diajarkan cara membaca Alquran yang baik dan benar lalu diajari tajwid dan kitab-kitab kuning yang diharuskan dipelajari yaitu kitab Mukhtar Al Hadits al Nabawiyah Karya Sayyid Ahmad Al hasyimi. Kitab kuning yang dipelajarinya memiliki halaman 1 sampai halaman 204 dan berisikan hadis-hadis yang sangat banyak. jika di pondok akan diajarkan oleh ustad dan ustadzah yang ada di pondok pesantren al-muttaqin Pancasila Sakti Komplek Putri.
Pendirinya kan Mbah Kyai Haji Muslim lalu pondok pesantren yang saya tempati diurus oleh anak Mbah yang kedua bernama Abah Jalalludin Muslim bersama Istrinya Bernama Ummi Imranah Nur Lailiyah. Di pondok pesantren ini terdapat tiga Komplek yaitu Komplek pertama yang diurus oleh Kyai Haji Gus Komarudin muslim anak ke-4 dari Mbak Kyai Haji Muslim dan di komplek ini lebih memfokuskan menghafal Juz Amma. Komplek kedua Komplek yang saya tempati ini yang diurus oleh Kyai Haji Jalaludin muslim anak kedua dari Mbah Kyai Haji Muslim yang lebih memfokuskan pada menghafal Alquran. Komplek ketiga yaitu diurus oleh Kyai Haji Muhammad Khoir Fatullah Aminuddin Al-Alawi anak ketujuh dari Mbah Kyai Haji Muslim yang memfokuskan pada Juz Amma. Kegiatan yang ada di setiap Kompleks itu semuanya hampir sama yang membedakan adalah ke fokus hanya lebih ke Juz Amma atau ke Alquran.
Ketua Yayasan ialah Kyai Haji Syaifudin Dzuhri anak Mbah Kyai Haji Muslim ke tiga. Di yayasan terdapat sekolah dari Tk, Smp, hingga SMA yang sebagian muridnya merupakan santri di pondok pesantren Al Muttaqin dan dari anak - anak warga setempat. Dipondok pesantren menerima santri minimal kelas satu SMP yang berusia 12 tahun. Setiap pelajaran sdlalu membaca Nadhomah atau syair – syair pelajaran yang sudah diajarkan dari awal. Setiap pelajaran yang ada di sekolah dengan di pondom itu berbeda kalau di sekolah yang dipejari adalah buku-buku umum yang ada di SMP sedangkan di pondok lebih mempelajari kitab-kitab pada zaman dulu. Disana saya diajari bagaimana menulis Arab Pegon untuk mengartikan kitab Mukhtar Al-Hadits Al-Nabawiyyah menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan pun bahasa Jawa Krama Alus yang sebagiannya saya tidak mengerti arti dari setiap kata yang diucapkan oleh Ustadz. Keseharian para santri pun menggunakan bahasa Jawa Krama Alus sehingga membuat saya bingung karena terdapat santri yang lebih tua dari saya tetap menggunakan krama alus untuk berbicara kepada saya.
Mbah Kyai Haji Muslim memiliki 9 orang anak yang masing-masing memiliki tugas tersendiri dalam pengurusan Pondok Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti. Setiap kegiatan yang dilakukan ini sudah diajarkan sejak dulu oleh Mbah Kyai Haji Muslim dan tetap dilakukan meskipun telah meninggal. Setiap kegiatannya memiliki khas tersendiri yang membedakan Pondok Pesantren Al Muttaqin dengan pondok pesantren lainnya. Setiap hari setelah sholat subuh Dan selamat Magrib diharuskan menyebabkan hafalannya kepada Umi ataupun pengurus yang sudah senior. Bagi yang ingin menghafalkan lebih dari 3 juz waktu mengaji ke umi jika kurang dari itu akan ke Madiniah. Menjelang magrib Santri diwajibkan untuk membaca Asmaul Husna bersama-sama di mushola menunjukkan untuk salat berjamaah. Santri diwajibkan shalat subuh Magrib dan Isya berjamaah di mushola.
Minggu pagi membaca Manaqib yaitu kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani setelah ngaji dengan Umi dilanjutkan membaca syair atau burkah karya Imam Bushiri itu dihaduskan karena banyak barokahnya. Lalu para santri bersih -bersih pondok bersama-sama atau Ro’an. Hari senin malam selasa santri membaca Istighasah habis magrib 7000 kali yang dibagi dengan santri dari komplek lain. Malam Selasa setelah Tahasus dilanjutkan dengan melakukan ghorib atau mencari rahasia rahasia dalam Al-Quran. Hari Kamis sore setelah diniah diajak untuk ziarah ke makam Mbah muslim pendiri pondok pesantren Al Muttaqin. Malam Jumat mengikuti Hitobah yaitu latihan ceramah Diba’yah (membaca) sholawat Nabi. Malam Sabtu habis Magrib para santri belajar tajwid. Di pondok diberlakukan jadwal piket untuk para santri seperti piket Mushola, Kamar Mandi, dan rumah Ummi. Untuk memasak dilakukan oleh santri yang sudah tidak sekolah lagi, santri perempuan menyiapkan keperluan masak dan santri pria yang memasaknya.
Di di pondok juga banyak peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh para santri. Peraturan yang harus ditaati seperti berangkat sekolah harus saling pada Umi. Saat kan menemui Umi harus berjalan menggunakan lutut itu sebagai menghormati pengasuh ataupun Kyai. Disana dilarang untuk berpacaran apalagi keluar dari Pondok tanpa izin dari mbak-mbak pengurus ataupun dari pengasuh. Di saat keluar dari Pondok pun juga tidak boleh memakai kaos dan dilarang meminjam HP pada orang lain yang bukan keluarganya. Untuk berbusana pun disana juga diatur untuk siang hari boleh pakai kaos lengan panjang kalau di dalam pondok dan kaos lengan pendek jika saat tidur. Para santri diharuskan memakai sarung terbuat dari kain yang harus sarung cewek yang harus ada bunga-bunganya. Busana nya juga tidak boleh menggunakan dari bahan jeans dan tidak boleh menggunakan pakaian karena menurut mereka itu akan seperti pakaian lelaki. Untuk jilbab di sana tidak diatur harus menggunakan apa tetapi disana menggunakan jilbab dibebaskan yang menggunakan seperti apa.
Setelah menemui Mbaknya dan menanya nanyain tentang sejarah Pondok Pesantren Al Muttaqin. Saya izin kepada mbak pengurus untuk mencari makan siang karena memang sudah waktunya makan siang dan jika kami meminta dari Pondok merasa tidak enak jadi kami keluar ditemani oleh teman saya mencari makan daerah situ. Setelah mencari makan siang saya dan  kelompok saya  mengemasi  barang-barang untuk persiapan kembali ke kos. Saat kami akan pulang Kami bingung harus izin ke siapa dulu akhirnya kami minta tolong kepada mbak mbak pengurus Untuk mengantarkan kami bertemu kepada ummi. Saat kamu berpamitan Umi dan Mbak Mbak pengurus Melarang kamu untuk pulang Mereka menyuruh agar kami tetap menginap di pondok untuk seminggu. Padahal kami harus mengikuti kegiatan di kampus dan tidak bisa untuk meninggalkan perkuliahan karena takut ketinggalan mata kuliahnya. Sesudah pamit kami foto bersama dengan Umi dan Mbak Mbak pondok.
Di pesantren saya banyak mengetahui kegiatan yang ada di pondok yang dulu tidak saya ketahui. Di pondok diajarkan untuk saling berbagi makanan dan harus saling menghormati dengan sesama Santri. Pesantren ini menggunakan kitab-kitab zaman dahulu sehingga bisa disebut bawah ini menggunakan Islam klasik. Membuat para santri tidak hanya mempelajari kitab-kitab modern tetapi juga kitab-kitab masa lalu. Sebagai mahasiswa Ini pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya membuat saya mengerti apa artinya berbagi menghormati sesama mahasiswa dan sangat menghormati orang yang lebih tua. Saat saya melihat para santri yang gigih belajar dan menghafalkan Alquran ini merupakan sebagai contoh bagi mahasiswa agar giat belajar dan giat mengerjakan tugas tugas dari dosen. Mahasiswa harus memiliki rasa sabar dan saling toleransi kepada sesama mahasiswa. Di sana juga diajarkan kita untuk jangan menghambur-hamburkan uang sesuatu hal yang tidak berguna lebih baik uang itu ditabung. Untuk kebutuhan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakharmonisan Berakhir Kehilangan